Seorang guru desa yang kakinya diamputasi mendapat pertolongan dari istri tercinta, anak-anak, kerabat, masyarakat, dokter, suster dan sebagainya. Jalan ceritanya penuh dengan ketegangan oksimoronik antara rasa sakit dan kemauan untuk menjadi akrab dengan rasa sakit. Dalam ketegangan yang demikian, datanglah pertolongan ilahi dan lingkungan keluarga dan masyarakat yang memiliki nurani religius.